Mengenal Jenis, Komponen, dan Fungsi Crane Alat Berat
Proses mengangkat dan memindahkan material adalah hal lumrah dalam berbagai bidang industri. Semakin banyak dan berat material yang harus diangkat, maka kebutuhan terhadap alat angkat dan angkut semakin krusial. Di sinilah peran crane alat berat menjadi penting.
Dengan menggunakan crane, kapasitas dan efektifitas kerja makin meningkat. Dalam praktiknya, jenis crane alat berat sangat beragam. Crane digunakan di dunia konstruksi, industri manufaktur, perkapalan, pelabuhan, pertambangan, minyak dan gas, serta pemeliharaan dan perbaikan.
Artikel singkat ini akan membahas mengenai jenis, komponen, dan fungsi crane. Tak ketinggalan pula bahasan mengenai penerapan K3 dalam pengoperasian crane.
1. Pengertian Crane
Crane adalah salat satu alat atau pesawat pengangkat dan pemindah material berat. Material atau beban yang berat bisa diangkat dan dipindahkan secara vertikal maupun horizontal.
Crane secara umum bekerja dengan aplikasi kerja tali dan katrol. Untuk jenis tertentu, jangkauan crane bisa mencapai puluhan meter dan mampu mengangkat beban hingga puluhan ton.
2. Jenis Crane Alat Berat
Terdapat beberapa jenis crane, yaitu: tower crane, mobile crane atau truck crane, crawler crane, hydraulic crane, overhead crane, dan floating crane. Berikut ini penjelasan singkat mengenai jenis-jenis di atas.
a. Tower Crane
Tower crane sering digunakan dalam proyek konstruksi bangunan tinggi. Struktur tower crane berbentuk menara yang tinggi sehingga bisa mengangkat beban dengan jarak cukup jauh, baik secara jangkauan horizontal atau ketinggian vertikal. Tinggi tower crane bisa mencapai lebih dari 60 meter.
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja, jenis kapasitas tower crane dibagi tiga kelas, yaitu Kelas III (tinggi menara sampai dengan 40 m), Kelas II (tinggi menara sampai dengan 60 m), dan kelas I (tinggi menara tanpa batasan ketinggian).
b. Mobile Crane atau Truck Crane
Mobile crane adalah alat berat yang menggabungkan mekanisme crane dan struktur truk. Artinya, sistem crane terpasang langsung pada truk atau kendaraan. Dengan begitu, mobile crane bisa dibawa langsung ke lokasi kerja secara mandiri tanpa menggunakan kendaraan tambahan.
Mobile crane umumnya digunakan dalam konstruksi, manufaktur, dan sektor lain yang memerlukan alat untuk mengangkat material berat. Dalam pengoperasiannya, mobile crane memiliki kaki penyangga (outrigger) yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan saat digunakan. Beberapa jenis mobile/truck crane antara lain truck crane all-terrain, truck crane rough terrain, truck crane crawler, dan truck crane hydraulic.
c. Crawler Crane
Crawler crane adalah alat berat pengangkat yang bergerak menggunakan roda rantai (crawler/track). Dengan jenis roda ini, crawler crane bisa digunakan pada berbagai medan yang sulit. Namun, jarak jangkauan crawler crane tidak terlalu panjang. Untuk pengangkutannya ke area proyek biasanya menggunakan truk trailer tambahan.
d. Hydraulic Crane
Hydraulic crane adalah struktur alat angkat yang lebih sederhana dibandingkan jenis crane lainnya. Jenis crane ini memanfaatkan sistem hidraulik (minyak) dan pneumatik (udara) untuk mekanisme angkatnya. Jangkauannya tidak begitu panjang dan kemampuan berputarnya hanya 180 derajat.
e. Overhead Crane (bridge crane)
Overhead crane adalah alat yang dirancang untuk mengangkat dan memindahkan beban berat yang bergerak di atas jalur rel di atas lantai, umumnya terpasang langit-langit bangunan. Keuntungan overhead crane adalah tidak memakan ruang di lantai kerja
Beberapa sumber memasukkan gantry crane dan jib crane sebagai sub-tipe dari overhead crane. Gantry crane memiliki struktur portal seperti jembatan dengan dua tiang vertikal yang menopang girder di bagian atasnya. Sementara itu, jib crane berstruktur satu tiang vertikal yang menopang lengan (jib/boom) horizontal.
f. Floating Crane (Crane Terapung)
Floating crane atau crane terapung adalah mesin crane yang terpasang pada struktur apung. Fungsinya untuk mengangkat dan memindahkan muatan di atas air.
3. Komponen Utama dalam Crane
Komponen yang terdapat pada crane bisa berbeda, tergantung dari jenis crane itu sendiri. Namun, beberapa komponen utama dalam crane (disusun secara alfabetis) antara lain:
- Base Section: bagian dasar crane yang tertanam dan terbuat dari beton yang berat.
- Boom: lengan yang berukuran panjang. Boom berfungsi sebagai komponen yang menjangkau material atau muatan yang akan dipindahkan. Pada beberapa jenis crane, boom dapat terlipat (teleskopik).
- Counterweight: disebut juga berat penyeimbang yang berfungsi untuk menyeimbangkan beban yang diangkat oleh crane. Menjaga kestabilan crane ketika mengangkat dan membawa beban.
- Hoist: terdiri dari drum yang dilengkapi rantai atau tali baja. Alat angkat ini mengangkat beban secara vertikal. Hoist berfungsi untuk mengangkat atau menurunkan material.
- Hook: pengait yang berukuran raksasa.
- Jib (lengan crane): berfungsi sebagai lengan kerja crane yang biasanya tersambung dengan boom. Jib digerakkan oleh mesin.
- Mast: struktur tiang utama penyangga yang mengatur ketinggian crane.
- Operator’s cab: ruang kendali tempat operator mengoperasikan crane.
- Outriggers: kaki penyangga (terdapat pada mobile crane) yang berfungsi menjaga stabilitas crane selama beroperasi.
- Slewing unit: komponen yang memungkinkan boom atau jib berputar 360 derajat.
- Sling: komponen untuk mengikat dan menggantung material yang akan diangkat. Sling biasanya terbuat dari tali baja atau rantai yang kuat menahan beban berat.
- Tower top: komponen paling tinggi yang ada di puncak crane (pada tower crane).
- Trolley: berfungsi memindahkan hoist secara horizontal. Trolley dapat bergerak sepanjang jib.
4. Fungsi Crane
Sesuai definisinya, crane alat berat memiliki fungsi penting untuk mengangkat dan memindahkan material. Dalam dunia konstruksi, misalnya, crane biasa digunakan dalam berbagai skala proyek. Proyek konstruksi kecil hingga proyek pembangunan gedung pencakar langit membutuhkan alat ini.
Beberapa fungsi penting crane antara lain:
- Mengangkat beban sangat berat: beban yang tidak bisa diangkat secara manual oleh tenaga manusia.
- Memindahkan material secara presisi: merupakan hal yang penting dalam suatu proyek konstruksi atau proses produksi.
- Menjangkau area sulit: seperti tempat yang sangat tinggi.
- Menambah efisiensi kerja: mengurangi tenaga dan waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat beban sehingga proyek bisa selesai dengan cepat sesuai tenggat waktu yang ditetapkan.
5. K3 Crane Alat Berat
Sesuai Permenaker No. 8 tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, crane (yang disebut keran angkat) termasuk dalam kategori pesawat angkat. Pesawat angkat adalah peralatan yang dibuat dan dipasang untuk mengangkat, menurunkan, mengatur posisi dan/atau menahan benda kerja atau muatan.
Crane harus dioperasikan dengan memperhatikan unsur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:
- Pemeriksaan keamanan secara teratur, meliputi pemeriksaan visual, sistem penggerak, sistem pengendalian.
- Pemeliharaan rutin semua sistem pada crane.
- Melakukan riksa uji crane.
- Melakukan pelatihan dan sertifikasi operator untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikan crane serta prosedur keamanannya.
Pelaksanaan K3 bertujuan:
- Melindungi K3 tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja dari potensi bahaya Pesawat Angkat, Pesawat Angkut, dan alat bantu lainnya.
- Menjamin dan memastikan keamanan dan keselamatan Pesawat Angkat, Pesawat Angkut, dan alat bantu lainnya.
- Menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat untuk meningkatkan produktivitas.

6. Riksa uji crane
Riksa uji crane adalah proses pemeriksaan dan pengujian terhadap crane untuk memastikan keamanan dan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan regulasi yang berlaku. Pemeriksaan dan pengujian crane dilakukan saat “pertama” kali digunakan dan secara berkala.
Pemeriksaan dan pengujian “pertama” crane harus dilakukan pada saat pembuatan, pemasangan atau perakitan, perbaikan atau perubahan atau modifikasi. Selain itu, berlaku pula bagi crane yang belum pernah dilakukan pemeriksaan dan pengujian, yang akan digunakan atau baru, yang diimpor, atau yang disewakan.
Di sisi lain, pemeriksaan dan pengujian “berkala” crane dilakukan paling lambat 2 tahun setelah pemeriksaan dan pengujian pertama dan selanjutnya dilakukan setiap 1 tahun sekali.
Proses riksa uji crane atau inspeksi crane dilakukan oleh PJK3 (Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang memiliki lisensi dari Kemenaker (Kementerian Tenaga Kerja).
Salah satu PJK3 terpercaya adalah PT Karya Deras Jaya (PT KDJ) yang telah berpengalaman melakukan riksa uji dan sertifikasi K3 peralatan untuk bidang pesawat angkut dan angkut, termasuk crane alat berat.
